Guru Yang Memerdekakan

Pada suatu pagi di sebuah sekolah. Terlihat seorang guru sedang memarahi beberapa muridnya yang datang terlambat ke sekolah. Sang guru terlihat sangat kesal kepada murid-muridnya tersebut, nada suaranya tinggi memarahi murid-muridnya yang menunduk. “Kalian mau jadi apa? Setiap hari terlambat, gak mikir kalian? Orang tua kalian bersusah payah menyekolahkan kalian. Ini balasan kalian terhadap mereka?” demikian sebagian pepatah sang guru kepada murid-muridnya. “Jika kalian mau begini terus, mendingan kalian keluar saja dari sekolah ini. Kalian telah merusak nama baik sekolah. Brengsek kalian, kurang ajar. Habis kesabaran saya menghadapi kalian, anak tidak bisa diatur. Hormat bendera kalian seharian di lapangan ini. Bapak malas ngurusin kalian!” Lanjutnya seakan belum puas mengajari murid-muridnya sambil meninggalkan mereka hormat bendera di lapangan.

Cerita berbeda di sekolah yang sama beberapa tahun kemudian. Di pagi yang sangat cerah, seorang siswa yang sering melanggar peraturan sekolah terlihat sedang menjalani hukuman dari gurunya. Ia menjalani hukuman membersihkan area sekolah dengan raut muka yang datar. Selesai menyelesaikan tugasnya, siswa tersebut diminta menghadap wakil kepala urusan kesiswaan di sekolah tersebut. Dengan perasaan takut, ia memasuki ruangan wakil kepala sekolah.

“Silahkan duduk!” perintah wakil kepala. Anak tersebutpun mengikuti perintah gurunya dengan wajah tertunduk. Sambil sibuk memainkan keyboard di laptopnya, wakil kepala meminta si anak untuk menuliskan “Saya sekolah disini untuk belajar menjadi …… “ pada selembar kertas. “Silakan isi titik-titik tersebut dengan bebas sesuai kehendakmu!” perintahnya. Dengan ragu-ragu, siswa tersebut menuliskan kalimat tersebut dengan menambahkan kata polisi, sehingga tertulis pada kertas tersebut “Saya sekolah di sini untuk belajar menjadi Polisi”. Dengan pernuh keraguan, kertas tersebut diserahkan kepada wakil kepala. Wakil kepala sekolah kemudian menghentikan pekerjaannya dan menatap fokus kepada siswa tersebut. Tanpa diduga oleh siswa, wakil kepala berdiri dan mengucapkan selamat kepada anak tersebut. “Selamat, kamu telah menemukan tujuanmu. Mulai besok kamu adalah polisi di sekolah ini. Bapak titipkan keamanan dan ketertiban sekolah ini menjadi tanggung jawabmu dan kamu boleh menyeleksi teman-teman kamu yang ingin menjadi polisi untuk bersama-sama kamu menjalankan misi ini. Apakah kamu siap?” tanya wakil kepala.

“Maksudnya, Pak?” tanya anak tersebut belum mengerti keinginan gurunya.

“Iya, sekolah itu adalah tempat untuk belajar menjadi. Kamu tadi telah menyatakan kepada Bapak bahwa kamu sekolah di sini untuk belajar menjadi polisi. Maka misi kamu sekolah disini adalah untuk belajar menjadi polisi. Maka oleh sebab itu, bapak harus memfasilitasi kamu agar belajar menjadi polisi. Menurut kamu apa yang harus kamu lakukan untuk belajar menjadi polisi?” jelas wakil kepala. “Apa kamu paham?” lanjutnya. “Iya pak, tapi apa yang harus saya lakukan?” tanya anak itu penasaran. Dengan tenang wakil kepala balik bertanya kepada siswanya yang berharap akan jawaban, “menurut kamu, apa yang dikerjakan seorang polisi?” tanya wakil kepala. “Menjaga ketertiban dan menegakkan hukum pak.” Jawab anak tersebut cepat. “Tepat sekali, itulah tugas polisi. Maka jika kamu ingin jadi polisi, maka belajarlah jadi polisi dari sekarang. Bantu bapak untuk menjaga ketertiban dan menegakkan hukum atau aturan di sekolah ini. Menurut kamu, apa yang kamu bisa lakukan untuk menjaga ketertiban dan penegakan aturan di sekolah ini?” jelas wakil kepala. “Banyak pak, mengatur lalu lintas penyeberangan teman-teman, mengatur parkir motor teman-teman, razia seragam. Apa lagi ya pak?” jawab anak tersebut yang sudah tidak canggung lagi menjawab pertanyaan gurunya. “Oke, cukup segitu aja dulu. Dari tiga hal yang kamu sebutkan, apa yang bisa kamu lakukan mulai saat ini?” tanya wakil kepala lebih konkret. “mengatur parkir teman-teman pak.” Jawab anak tersebut. “Sip, kapan kamu siap mulai bertugas?” tanya wakil kepala. “Besok saya siap pak” jawab anaa tersebut mantap. “Ok. Besok kamu mulai bertugas membantu satpam kita untuk mengatur parkir motor teman-teman. Dan satu lagi, ketika kamu bersalaman dengan bapak atau Pak Satpam, kamu harus bergaya seperti polisi. Hormat dulu sebelum kamu bersalaman. Anggap bapak dan Pak Satpam adalah komandan kamu.” Tambah wakil kepala. “Siap Ndan!” jawab anak tersebut sambil berdiri dan memberi hormat.

 Dua cerita tersebut menggambarkan dua pengalaman menarik dalam dunia pendidikan formal di Indonesia. Tipe peserta didik yang selalu terbagi menjadi dua kelompok besar, kelompok penurut dan kelompok pemberontak. Kesulitan yang dialami hampir semua guru di lembaga pendidikan adalah menghadapi peserta didik tipe pemberontak. Stempel “nakal” dan “badung” akhirnya melekat pada peserta didik tipe ini. Tipe anak pemberontak biasanya berjumlah minoritas, namun akan-anak ini biasanya menghabiskan energi guru-guru. perhatian mereka lebih banyak mengurusi anak-anak tipe ini daripada anak-anak tipe penurut.

Yang menarik dari tipe anak pemberontak adalah anak-anak ini biasanya merupakan anak-anak yang berhasil lebih dahulu setelah mereka lulus dari sekolah. Bahkan yang lebih menarik, anak-anak tipe inilah yang lebih perhatian ketika bertemu dengan gurunya setelah mereka lulus dibanding dengan anak-anak tipe penurut. Mereka menyapa gurunya ketika bertemu di manapun, bahkan banyak diantara mereka yang bersilaturahmi kepada gurunya setelah mereka berhasil. Tipe anak pemberontak memiliki banyak teman dan hubungan pertemanan mereka terlihat lebih kuat dibanding dengan anak-anak tipe penurut.

Sebuah pemikiran menarik yang menggelitik dunia pendidikan kita adalah ungkapan seorang teman guru yang mengatakan bahwa pendidikan kita itu mendidik anak atau memaksa anak untuk memenuhi ego kita? Dua cerita di atas adalah gambaran yang membedakan antara memenuhi ego guru dan mendidik.

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar mereka siap menjalani masa depannya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pasal ini sangat jelas menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik. Permasalahannya adalah, apakah setiap kita sebagai guru dan orang tua memahami apa yang dimaksud potensi peserta didik?

Potensi merupakan energi potensial yang dimiiliki manusia dan dianugrahkan Tuhan sejak lahir. Dr. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa potensi manusia terdiri dari jasmani, akal dan hati. Al-Quran menyebutkan bahwa potensi manusia terdiri dari sam’a (pendengaran), abshor (penglihatan) dan af-idah (hati/perasaan). Jika kita merujuk kepada pandangan Dzakiah, maka potensi manusia yang harus dikembangkan adalah fisik, akal dan hati (qalbu). Hal ini selaras dengan konsep pendidikan Indonesia, bahwa ruang lingkup pengembangan kompetensi terdiri dari kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Dalam hal mengembangkan ketiga potensi tersebut tentu membutuhkan strategi yang berbeda. strategi pengembangan hati akan berbeda dengan strategi pengembangan akal demikian pula dengan pengembangan fisik. Pengembangan potensi hati harus dilakukan dengan melatih peserta didik untuk dapat merasa, maka teknik introspeksi dan tenggang rasa menjadi teknik utama dalam melatih hati. Potensi akal hanya dapat dikembangkan dengan strategi berpikir. Untuk melatih berpikir, strategi pemecahan masalah (problem solving) menjadi teknik utama. Sementara untuk mengembangkan potensi fisik/jasmani/keterampilan, dikembangkan dengan strategi melakukan/berbuat. Untuk itu, agar potensi keterampilannya berkembang, peserta didik perlu dilatih untuk melakukan.

Berdasar pandangan tersebut, maka tugas guru sebenarnya adalah melatih merasa/introspeksi, membuat masalah, dan menyuruh melakukan.

 Melatih Rasa

Tugas hati adalah merasa, maka untuk mengembangkan potensi hati membutuhkan banyak latihan merasa. Kolaboratif, komunikatif, demokratis (saling menghargai) dan bertanggung jawab merupakan produk dari latihan merasa. Teknik muhasabah (merenung), tukar nasib, introspeksi diri, dzikir, yoga menjadi pilihan untuk mengembangkan potensi ini. Semakin terampil peserta didik merasakan apa yang orang lain rasakan jika dia berbuat sesuatu, maka hati peserta didik akan semakin lunak dan semakin mudah untuk berbuat baik. Untuk mencapai tingkat pengembangan potensi hati yang maksimal, sekolah perlu melakukan pendekatan tukar nasib untuk seluruh perbuatan yang dilakukan oleh peserta didik. Pendekatan tukar nasib akan menjadi arus utama dalam pembentukan karakter peserta didik. Salah satu contoh ketika peserta didik melakukan kenakalan, bawa mereka ke alam bawah sadar mereka pada kondisi alfa. Posisikan mereka sebagai orang tuanya. Bagaimana rasanya? Pendekatan ini akan membekas pada mereka ketika dilakukan secara terus menerus. Atau dapat pula dibuat sebuah program kontemplasi pagi. Setiap pagi selama 5-10 menit, peserta didik melakukan kontemplasi untuk merenungi apa yang sudah mereka lakukan dan posisikan mereka pada posisi orang tua mereka yang menyimpan harapan akan keberhasilan dan kebahagiaan mereka. Atau sesekali peserta didik dibawa jalan-jalan mengunjungi tempat bencana atau ke rumah sakit untuk melatih rasa mereka bagaimana jika mereka yang berada di wilayah bencana atau terbaring di tempat tidur rumah sakit tersebut, bila perlu inapkan mereka beberapa malam di tempat pengungsian.

 Memberi Masalah

Fungsi akal adalah untuk berpikir. Berilmu dan kreatifitas merupakan produk dari pengembangan akal. Untuk melatih berpikir, maka pemberian masalah untuk dicarikan solusi merupakan menu utama bagi peserta didik. Model pembelajaran problem solving adalah model utama dalam pengembangan potensi ini. Peserta didik yang setiap hari dilatih memikirkan solusi untuk memecahkan masalah kehidupan, akan menjadi peserta didik yang terampil dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Akhirnya mereka akan menjadi sosok yang kritis, kreatif dan inovatif menghadapi setiap permasalahan. Tugas guru dalam hal ini adalah pembuat masalah. Semakin mahir guru membuat masalah, maka semakin terampil peserta didik menyelesaikan masalah.

 Menyuruh

Fungsi Jasmani adalah melalukan atau berbuat. Sehat, cakap, terampil, produktif dan mandiri merupakan produk dari melakukan dan berbuat. Untuk mengembangkan potensi ini, maka guru perlu memiliki kemampuan menyuruh yang mumpuni. Kemampuan menyuruh guru agar peserta didik dengan sukarela melakukan apa yang diminta oleh gurunya akan berbanding lurus dengan kemampuan melakukan peserta didik. Semakin sering guru menyuruh peserta didik, maka semakin banyak peserta didik melakukan. Akibatnya semakin tinggi produktivitas peserta didik, semakin cakap dan terampil peserta didik dalam melakukan sesuatu. Maka dari itu, bagi setiap guru berhentilah menjadi aktor. Jadilah sutradara yang handal. Jadilah penyuruh yang hebat. Jadilah penyuruh yang menghipnotis, agar peserta didik dengan suka rela melakukan yang kita suruh. Tingkatkan kemampuan menyuruh kita.

 

Akhirnya, melatih rasa, membuat masalah dan menyuruh merupakan ruh utama dari merdeka belajar sebagaimana yang diharapkan oleh Peratutan Pemerintah No 32 Tahun 2013 Pasal 19 ayat 1 yang berbunyi “Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis Peserta Didik”. Inilah hakikat dari merdeka belajar, belajar yang memberikan ruang yang cukup untuk prakarsa, kreativitas dan kemandirian yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi.

OSIS SMAN 1 Cijeruk berbagi APD Covid-19

Langkah penanggulangan covid-19 terus digalakkan pemerintah dalam rangka mengurangi laju penularannya. SMA Negeri 1 Cijeruk diinisiasi oleh OSIS dan Alumni melakukan sebuah langkah taktis dalam membantu petugas lapangan yang menjadi garda terdepan dalam penanggulanan covid-19.

Pada hari Kamis, 16 April 2020, OSIS SMAN 1 Cijeruk bekerjasama dengan alumni SMAN 1 Cijeruk memberikan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) kepada beberapa puskesmas, rumah sakit, polsek, koramil dan pos PSBB Batutulis. 

Sutanandika, selaku inisiator gerakan peduli ini mengatakan bahwa gerakan ini dilakukan dalam rangka membangun kerjasama pengurus OSIS SMAN 1 Cijeruk antar generasi. Selain itu, gerakan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa peduli generasi muda terhadap permasalahan bangsa. 

Alat Pelindung Diri dibuat secara mandiri oleh OSIS dan Alumni selama satu minggu dengan pengawasan dari beliau. APD ini secara serempak diserahkan kepada Puskesmas Caringin, puskesmas sukaraja, RSUD Ciawi, Polsek Cijeruk, Koramil Cijeruk dan Posko PSBB Batutulis. Selain itu, APD juga akan dikirimkan ke Disdik Provinsi dan Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Barat.

PERPANJANGAN MASA BELAJAR DI RUMAH

Memperhatikan perkembangan kondisi terkini penyebaran covid-19 di provinsi Jawa Barat serta memperhatikan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Nomor 443/3718 – Set.Disdik, tanggal 27 Maret 2020 perihal Penyelenggaraan Pendidikan Dalam Rangka Pencegahan Covid-19 di Provinsi Jawa Barat yang kemudian dilanjutkan dengan SE Kepala Dinas Nomor 443/4181-Set. Disdik tanggal 09 April 2020 perihal Perpanjangan Waktu Pelaksanaan PBM di rumah dan Informasi Kegiatan Akademik tahun pelajaran 2019/2020, maka dengan ini dipermaklumkan beberapa hal berikut:

  1. Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar bagi kelas XII dinyatakan telah selesai mulai tanggal 14 April 2020, untuk itu sejak tanggal tersebut pihak sekolah menyerahkan kembali tanggung jawab mendidik dan membimbing peserta didik kelas XII kepada orang tua sepenuhnya.
  2. Pengumuman Kelulusan kelas XII dilaksanakan tanggal 04 Mei 2020 dengan teknis yang akan disampaikan kemudian.
  3. Untuk kelas X dan XI , pelaksanaan pembelajaran tetap dilaksanakan di rumah  masing-masing dengan mode daring sampai tanggal 27 April 2020 yang dikordinasikan oleh wali kelas masing-masing.
  4. Kegiatan pembelajaran pendidikan karakter pengembangan nilai-nilai keagamaan (kegiatan amaliah Ramadhan) untuk kelas X dan XI akan dilaksanakan mulai tanggal 27 April – 20 Mei 2020 dengan teknis yang akan disampaikan kemudian.
  5. Libur Awal Ramadhan 1441 H dilaksanakan mulai tanggal 23 – 26 April 2020.
  6. Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk kelas X dan XI akan dilaksanakan pada tanggal 3 – 13 Juni 2020.
  7. Orang tua dimohon untuk memastikan bahwa putra-putrinya  melaksanakan kegiatan pembelajaran di rumah (tidak melakukan bepergian/wisata atau kegiatan lain yang tidak selaras dengan berbagai upaya pencegahan penularan Covid-19)
  8. Untuk melayani orang tua/wali yang berkepentingan ke sekolah, dapat dilayani petugas piket (guru dan pegawai) yang telah ditugaskan
Demikian pemberitahuan disampaikan, semoga kita selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Mari bersama-sama memutus rantai penyebaran covid-19 dengan mengikuti arahan pemerintah. Semoga kita dapat menjemput Ramadhan dengan suka cita.

Cijeruk, 13 April 2020
Kepala SMAN 1 Cijeruk

ttd

Fitriyani, S.Si, M.Pd
NIP. 198208082009022001.

Metode Al-Haya

Permasalahan anak SMA yang belum bisa membaca Al-Quran dan malu untuk belajar membacanya sekarang bukan masalah lagi di SMAN 1 Cijeruk. Melalui unit penerbitan karya guru dan peserta didik, SMAN 1 Cijeruk Publishing, Sudarjat, M.Pd selaku guru Pendidikan Agama Islam menerbitkan sebuah buku yang diberi judul “Metode Al-Haya” Solusi Belajar Membaca Al-Qur’an Bagi Remaja Yang Malu Belajar Ngaji. Metode Al-Haya merupakan sebuah metode dengan pendekatan otak kanan yang didedikasikan penulis untuk menuntaskan remaja Indonesia dari buta huruf Al-Qur’an. Sudarjat menuturkan bahwa hasil eksperimen yang diangkat dalam tesisnya, menunjukkan bahwa peserta didik remaja yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan malu untuk belajar direkomendaikan untuk menggunakan buku “Metode Al-Haya”

“Metode Al-Haya sangat membantu kami yang malu untuk belajar membaca Al-Quran tapi malu untuk belajar karena sudah gede. Dengan buku ini kita dapat belajar membaca Al-Quran secara mandiri dengan mengerjakan latihan-latihan yang disediakan di buku tersebut. Jika kita sudah percaya diri, kita menghadap deh ke guru PAI atau teman yang sudah bisa baca untuk menguji lembar ujian ” Rais Agung menyatakan testimoninya.

Permasalahan anak SMA yang belum bisa membaca Al-Quran dan malu untuk belajar membacanya sekarang bukan masalah lagi di SMAN 1 Cijeruk. Melalui unit penerbitan karya guru dan peserta didik, SMAN 1 Cijeruk Publishing, Sudarjat, M.Pd selaku guru Pendidikan Agama Islam menerbitkan sebuah buku yang diberi judul “Metode Al-Haya” Solusi Belajar Membaca Al-Qur’an Bagi Remaja Yang Malu Belajar Ngaji.

Metode Al-Haya merupakan sebuah metode dengan pendekatan otak kanan yang didedikasikan penulis untuk menuntaskan remaja Indonesia dari buta huruf Al-Qur’an.

Sudarjat menuturkan bahwa hasil eksperimen yang diangkat dalam tesisnya, menunjukkan bahwa peserta didik remaja yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan malu untuk belajar direkomendaikan untuk menggunakan buku “Metode Al-Haya”

SMAN 1 Cijeruk Tanggap Covid-19

Penyebaran Covid 19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal ini menjadikan seluruh sendi kehidupan ekonomi sosial dan budaya terganggu. Ekonomi masyarakat mengalami penurunan kualitas dikarenakan mengikuti arahan pemerintah untuk mengurangi kontak fisik. 

SMAN 1 Cijeruk sebagai lembaga yang menyiapkan generasi-generasi hebat di masa depan, mengarahkan peserta didiknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang dapat dilaksanakan di rumah masing0masing selain belajar jarak jauh yang dipandu oleh guru dan wali kelas masing-masing.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik SMAN 1 Cijeruk antara lain:
1. Gerakan munajat yang dilaksanakan seluruh warga SMAN 1 Cijeruk setiap ba’da Magrib secara bersama-sama di rumah masing-masing.

2. Gerakan Peduli Cegah Covid-19 dengan membuat handsanitizer, masker dan minuman sehat yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

3. Gerakan Peduli Pahlawan Covid-19 dengan membuat Alat Pelindung Diri (APD) yang didonasikan kepada puskesmas, dinas kesehatan, kepolisian dan koramil.